Indahnya hidup berdampingan

Asnaful faizah

Asnaful faizah

Sebagai manusia biasa tentu harus menyadari bahwasannya hidup berdampingan dengan orang lain,baik itu sesama muslim ataupun non muslim, beda warna kulit, beda etnis, beda suku sangat mengasikkan, Berdampingan disini bukan berarti selalu bersama dalam segala urusan, tapi berdampingan dalam menjalani kerukunan hidup antar sesama manusia, sesama warga negara Indonesia yang plural ini.

Menyoal tentang kerukunan hidup antar umat manusia, tentunya harus disadari bahwa menjalankan hidup tanpa bantuan orang lain itu tidak akan bisa, terutama dalam konteks ekonomi makro. fasilitas kita yang digunakan sehari-hari barangkali buatan mereka-mereka yang beda agama dengan kita, misalnya sepeda motor, mobil, baju dan lain-lain. ini artinya kita membutuhkan mereka, tanpa memandang latarbelakang mereka.

begitu juga berdampingan dengan berbagai kelas sosial di desa kita, di kantor kita, di tempat bekerja kita. selayaknya perbedaan apapun, menjadi pelengkap yang saling melengkapi. bukan saling membenci, iri, dengki, dan lain-lain. perintah untuk kita rukun sesama umat manusia juga ada dalam alquran agar kita saling mengenal terhadap perbedaan kabilah dan suku. agar saling hormat menghormati baik sesama muslim yang beda pendapat maupun sesama manusia yang beda agama. bagi sesama muslim, di alquran dijelaskan, “lana a’maluna walakum a’malukum”-bagiku amal ku dan bagimu alamu. kemudian “lakum dinukum waliyadin”-untukmu agamamu dan untukku agamaku”. alquran memerintahkan kita untuk saling hormat menghormati baik sesama muslim maupun muslim dan non muslim.

Satu Tanggapan

  1. Indahnya hidup dengan agama. Indah bila bertemankan orang soleh. Dikelilingi dengan suasana agama dan meresap ketenangan jiwa. Kata-kata terpatri bersama, mengejar cinta dan cita-cita demi yang Maha Satu.

    Pertemuan itu urusan Allah. Sudah dicatat sejak awal lagi. Tetapi prinsipnya tetap satu dan satu itulah yang wajib difahami. Orang yang baik berhak mendapat kehidupan yang baik. Cuma sekali-sekali sahaja Allah menguji orang yang baik mendapat kehidupan yang susah seperti derita kehidupan Nabi Lut mendapat isteri yang jahat dan Asiyah yang bersuamikan Firaun laknatullah.

    Hikmah takdir ini tidak boleh diperdebat.

    Jika takdirnya bahagia, terimalah sebagai ujian. Jika takdirnya pahit, terimalah sebagai obat. Katalah, andai sudah berusaha menjadi orang yang baik dan telah pun memilih jalan yang baik, tetapi jika takdirnya bermasalah, teruslah bersabarlah. Dan bersangka baik dengan Allah SWT.

    “Aku menurut sangkaan hamba kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila dia ingat kepadaKu. Jika dia ingat kepadaKu dan dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu…..” (Sahih Bukhari)

    Katakan pada diri bahawa itulah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk meraih syurga bersama. Maka rebutlah pahala sabar dan redha seperti sabar Nabi Lut dan Nabi Ayyub merentas onak duri kehidupan.

    Sejujurnya takdir pertemuan dan perpisahan dalam roda pusingan kehidupan menagih kemesraan, kasih sayang dan remuk rindu sesama hamba. Belajarlah memahami hikmah di sebaliknya. Itu yang terbaik.

    Anyamlah buih-buih di laut demi membuktikan azam dan semangat yang tinggi tanpa mengusik keaslian pantai.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.